new ff

Peristiwa itu terjadi terlalu cepat. Tanpa rencana, tanpa persiapan. Kedua insan itu memilih untuk mengakhiri semuanya. Meninggalkan sisa kenangan dan luka dihati masing-masing.

___________________________________________________________________________

Ting.. Ting..
Ting.. Ting..

Suara dentingan dari garpu dan piring yang beradu membuat suasana semakin canggung. Gadis berbaju hijau tosca itu menekuk wajahnya sambil sesekali melirik jam yang tergantung manis ditangannya.

“Ayah. Kau yakin wanita itu akan datang?”

Pria separuh baya yang dipanggil ‘ayah’ itu hanya menarik kedua sisi bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis.

Gadis bernama Kim Sojin itu menghela nafanya. Ia bosan. Tentu saja. Bukankah menghabiskan satu  jam di mall itu lebih mengasyikan dibanding menunggu orang yang tidak tahu diri seperti ini?

“Atau tidak bisa kah kita memesan makanan lebih dulu?”

Alis gadis itu bertaut, menunjukan protes pada ayahnya yang sedari tadi sibuk dengan tabnya. Ayahnya hanya mendelik kearahnya singkat kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya.

Ck!

“Ah m-mianhae!”

Sojin mengangkat wajahnya begitu mendengar suara wanita dewasa yang terdengar begitu panik. Sojin mendengus kesal, mengetahui itu adalah kekasih ayahnya.

“Ada pasien kecelakaan yang harus segera ditolong tadi” Ucap wanita itu sambil menarik kursi dan membiarkan tubuhnya beristirahat di kursi empuk restoran itu.

Gadis itu tidak bergeming. Ia masih sibuk dengan dentingan garpu dan piringnya. Entah Sojin salah dengar atau tidak, Ia mendengar suara wanita itu mendesah pelan. Hey yang seharusnya marah itu aku!

“Sojin-ah..” Wanita itu memanggil namanya lembut.

Sojin menatap calon ibunya sinis tanpa mengeluarkan sepatah-katapun. Bibirnya tertekuk ke bawah, mengisyaratkan dengan jelas bahwa gadis itu marah.

“Sojin-ah..”

Suara wanita itu melunak. Tangan lembutnya menggapai puncak kepala Sojin dan membelainya lembut.

“Lihat siapa yang datang..” Wanita itu berbisik pelan sambil melirik pria muda yang entah kapan datang. Pria itu mengenakan pakaian formal dan melemparkan senyum kearah Sojin.

Pria muda itu tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. Cukup tampan dengan tatanan rambut modern serta mata besarnya yang cukup mencolok. Perawakannya cukup tinggi namun—Hey senyum macam apa itu?!

“Park Chanyeol imnida”

Sojin masih memusatkan pandangannya pada Pria yang bernapa Park Chanyeol itu. Tidak, lebih tepatnya memusatkan pandangannya pada pierching bergambar phoenix yang terjepit di telinga kanannya.

“Phoenix..” Sojin menggumam tanpa sadar.

“Ya?”

“A-ani.. Kim Sojin imnida”

Gadis itu masih memandangi benda logam yang tersemat di telinga Chanyeol. Mitologi Yunani.. Apa pria ini tertarik dengan mitologi yunani?

Ayahnya bukan sejarawan, begitupula Ibunya. Tapi Sojin merasa sangat tertarik dengan cerita yang entah fiksi atau fakta. Cerita tentang dewa-dewi Yunani san sebangsanya. Menurutnya itu hal yang menarik.

Chanyeol merubah posisi duduknya. Sungguh, tatapan Sojin sangat mengganggu. Apa ada yang salah?

“Chanyeol akan jadi oppa-mu” Ucap ayahnya singkat. Sojin tidak menggubrisnya. Entahlah, tapi tidak menarik menurutnya.

Pelayan restoran yang datang membuyarkan lamunan Sojin. Gadis itu membuka buku menu dan menunjuk salah satu makanan yang namanya susah untuk disebut (?). Bahasa Perancis Sojin memang minus.

Entah siapa yang memulai, Kedua orang yang sedang dimabuk cinta itu sudah sibuk dengan percakapan serunya, mengabaikan kedua remaja yang menutup mulut masing-masing dengan rapat.

Mata besar milik Chanyeol mulai menyapu setiap inchi dari wajah adik tirinya itu. Rambut panjang bergelombang dan poni yang menutupi keningnya. Serta alis, hidung, mata, bibir dan rahang.

Cantik.

Ya! Apa yang kau pikirkan Park Chanyeol?! Dia itu –calon—adikmu!

“Apa?” Sojin menangkap tatapan Chanyeol yang masih menatap wajah gadis itu. Detik berikutnya Chanyeol membuang pandangannya ke luar jendela. Bodoh!

Sojin mendesis melihat tingkah laki-laki dihadapannya.

Seorang pelayan menghampiri meja mereka dan memberikan hidangan yang tadi mereka pesan. Aromanya sangat menggoda, membuat air liur Sojin hampir menetes.

Keempat manusia kelaparan itu langsung sibuk dengan hidangannya masing-masing. Sojin masih menatap Coq Au Vin miliknya yang masih tersaji rapi diatas meja. Aroma wine yang tercium, menggelitik indra penciuman Sojin.

Délicieux!

Eh, benar kan?

Masa bodo dengan bahasa prancisnya yang minus, Sojin kembali melanjutkan acara kecannya dengan Coq Au Vin yang kini tinggal separuh. Kenikmatan ini membuatnya lupa dengan apapun, termasuk tugas-tugas kuliahnya mungkin?

Apa?

Suara kursi yang bergesek dengan lantai marmer membuat calon keluarga kecilnya itu menoleh. Sojin tiba-tiba berdiri.

“Ayah! Kunci mobil!”

Kedua alis ayahnya berkerut. Tangannya reflek meraba-raba kantung jasnya dan mengambil sesuatu dari sana. Sojin dengan terburu-buru menyambar kunci dan tasnya.

“Mianhae. Aku pulang dulu” Sojin berlari tanpa peduli dengan tatapan bingung ayahnya serta calon ibu dan kakaknya itu. Terdengar suara helaan berat yang keluar dari bibir sang ayah. Anak itu…

****

2 a.m

Suara ketikan laptop dan kuapan Sojin saling mendominasi di ruangan kecil berdinding putih tulang milik Sojin. Tidak ada waktu lagi untuk mengumpat sang dosen yang memberikan script layaknya dialog drama berseries.

Sojin mengambil gelas kopinya yang ketiga dan menenggaknya hingga tak bersisa. Ah..

Menurut Sojin, wajah Lee Songsaenim yang marah lebih mengerikan dibanding Dewa Hades yang siap mengambil nyawa manusia. Berlebihan? Memang.

Sojin mengangguk mantap setelah memeriksa tugasnya yang telah selesai. Ia tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Lihat, Bukankah aku murid teladan? Siapa yang sudi menyelesaikan tugas dari dosen gila itu sampai jam 2 pagi?

Gadis itu merenggangkan kedua otot tangannya yang kaku. Memejamkan mata sejenak kemudian membereskan buku-buku yang berserakan di lantai serta mejanya. Menutup laptopnya dan melemparkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk.

“Aku lelaaaaaaaaah!”

“Kau pikir ini jam berapa Sojin-ah?!”

Masa bodoh dengan ayahnya yang terbangun, Sojin menarik selimut dan membungkus tubuh mungilnya. Matanya terpejam. Tidak butuh lebih dari 3 menit, suara dengkuran kecil mulai terdengar.

****

“Ini?”

“Atau yang ini?”

“Sojin-ah, bagaimana menurutmu?”

Sojin mengalihkan pandangannya dari majalah fashion yang menurutnya lebih menarik dibanding melihat wanita yang bahkan tidak muda lagi, memutar tubuhnya didepan kaca sambil melakukan beberapa pose bak model terkenal.

“Good”

Srek!

“Ya! Kembalikan majalahnya!”

“Tidak, sampai kau serius menilai penampilanku”

Sojin mendengus kesal. Hari ini begitu melelahkan. Lelah untuk hati dan fisiknya. Setelah mengerjakan tugas sampai pagi, ia dipermalukan didepan mahasiswa lain oleh dosen gila itu.

Kupikir kau bukan murid SD lagi, Nona Kim..

Perkataan macam apa itu?! Hey, tidak ada yang salah dengan scriptnya! Ia mengerjakan dengan sungguh-sungguh. Bahkan Ia tidak pernah mengerjakan apapun seserius ini. –Itulah mengapa Sojin selalu menjadi bahan omelan para dosennya–

“Ayolah Sojin-ah. Kau tidak ingin aku menjadi bahan tertawaan dihari pernikahanku sendiri, kan?”

“Everything for you, madam” Jawab Sojin malas. Ia berdiri, meninggalkan sofa dan menghampiri calon ibunya yang sudah mengenakan wedding dress lengkap dengan tiara yang tersemat dirambutnya yang bergelombang.

“Otteyo?”

Sojin menatap wanita dihadapannya dari atas sampai bawah. Tidak buruk. Wanita itu cantik. Bahkan kalau boleh jujur, ia lebih cantik dari mendiang ibunya. Ibu kandungnya yang meninggal 8 tahun lalu.

“Yeppeuda..” Kedua sisi bibir Sojin tertarik membentuk senyum tipis.

Entah kenapa Sojin merasa harus menyebutkan nama calon ibunya. Park Soneul. Ia cantik bukan?

Klining.. Klining..
Klining.. Klining..

Bel yang terpasang dipintu masuk berbunyi. Seorang pria bertubuh jangkung, menyembulkan kepalanya sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Park Chanyeol..

Ia berjalan menghampiri Ibunya dan memeluk serta mencium pipi sang ibu singkat. Reflek, Sojin menyingkirkan diri dan membiarkan calon anggota keluarganya berpelukan. Selesai dengan ibunya, Chanyeol menghampiri Sojin sambil merentangkan tangannya dan tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.

“M-mau apa?!”

Senyumnya sirna dengan cepat. Chanyeol menatap Sojin dengan mata besarnya, bingung. “Er..Memelukmu?”. Sojin melongo mendengar jawaban polos Chanyeol. Tanpa sadar Sojin melangkahkan kakinya mudur menjauhi Chanyeol, kikuk. Apa-apaan pria ini?

“Memeluk calon adikku?”

Ucap Chanyeol ragu. Senyum canggungnya mengembang melihat ekspresi bingung Sojin yang terpampang jelas di wajah mungilnya. Alis gadis itu bertaut melihat tingkah aneh pria yang merupakan calon kakaknya.

“Apa kabar adik kecil?” Chanyel menarik bahu Sojin dan memeluknya pelan. Tangan besarnya membelai rambut Sojin lembut. Suara tawa garing milik Chanyeol terdengar tepat ditelinga Sojin. Gadis itu sontak mendorong tubuh Chanyeol dan mengambil beberapa langkah mundur.

Sojin harus mendongak untuk menatap wajah Chanyeol. Sial. Dia terlalu tinggi!

“Mian” Ucap Chanyeol pelan sambil menggaruk lehernya yang kuyakin itu tidak gatal. Sojin hanya membuang wajahnya, berpura-pura tidak mendengar. Gadis itu langsung menyibukkan diri dengan tumpukan majalah diatas meja.

Chanyeol sudah melesat entah kemana, mengikuti sang ibu mencari wedding dress yang cocok untuk tema pernikahan orang tuanya. Sojin menghela nafas. Ini pertama kalinya Ia bertemu laki-laki aneh, macam Chanyeol.

****

“Gadis itu membeciku?”

Chanyeol duduk disofa empuk berwarna coklat sambil menatap wajah ibunya lewat kaca besar dihadapan Ibunya. Entah mendengar atau tidak, Soneul masih sibuk menatap bayangan dirinya yang terpantul di kaca.

“Sojin. Namanya Sojin, Chanyeol-ah”

“Ya, terserahlah. Kurasa dia membenciku”

Ibunya berbalik dan menatap wajah anak laki-lakinya yang sedang mengkercucutkan bibirnya. Suara kekehan kecil terdengar. Soneul duduk disebelah Chanyeol dan menggenggam tangan hangat milik Chanyeol.

“Kenapa berpikiran begitu?”

Pria itu hanya mengendikkan bahunya acuh sambil mendengus pelan.

Park Chanyeol. Laki-laki yang selalu mendapat perhatian dimanapun. Ia tampan, pintar, atletis, dan kaya. Hey, wanita mana yang tidak rela mengantri untuk mendapatkannya? Ini pertama kali baginya, ada wanita yang menolak pelukannya. Pelukan seorang Park Chanyeol.

“Sojin hanya belum mengenalmu Yeol-ah. Dia anak yang baik” Ucap Soneul lembut. Entah Sojin harus bangga atau malah tersinggung mendengarnya. Baik? You don’t know anything, madam.

“Sudahlah. Kau dan Sojin harus segera fitting baju juga” Soneul menarik lengan Chanyeol dan menggandengnya keluar ruangan. Lagi-lagi senyumnya mengembang saat melihat Sojin sudah rapi dengan dress senada dengan gaun pernikahannya.

“Woah! Neomu yeppo!” Seru Soneul. Sojin hanya tersenyum seadanya sambil terus memperhatikan pantulan dirinya dikaca. Gaun putih pendek yang memperlihatkan leher serta kakinya yang jenjang membuat Sojin tampak lebih feminin.

“Bagaimana Chanyeol-ah?”

Chanyeol menatap Sojin dari ujung pita yang terikat menghiasi rambutnya sampai sepatu kaca yang mengkilat bak Cinderella. Chanyeol mengangguk pelan sambil berlalu. Ia berjalan menuju kamar ganti sambil membawa satu stel tuxedo serba putih.

Sojin menghempaskan tubuhnya diatas sofa dan memejamkan matanya sejenak. Moodnya kurang baik hari ini. Ia ingin pulang. Butuh refreshing lebih tepatnya. Menikmati ice cream atau sekedar bercanda dengan teman-temannya, mungkin?

Suara dehaman berat membuat Sojin dengan malas membuka matanya kembali. Chanyeol sudah berdiri dihadapannya menggunakan tuxedo putih mewah. Sempurna.

Rambut pendeknya yang ditata asal, mata besarnya, hidung mancungnya, bibir tipisnya, semuanya. Sempura. Sojin menatapnya tanpa berkedip. Matanya terus menyapukan pandangannya pada setiap titik paling menarik milik Chanyeol.

Hey, bagaimana bisa seseorang pria biasa bisa bertransformasi secepat ini hanya dengan tuxedo?

Sojin menggelengkan kepalanya. Bukan. Bukan model ataupun artis terkenal, Ia calon oppamu Sojin-ah. Ayo sadar!

“Terpesona?” Goda Chanyeol sambil tersenyum menatap Sojin.

“Jangan harap, Tuan Park”

Sojin menyambar tas dan berjalan menjauhi Chanyeol, menuju ruang ganti. Ini menyebalkan. Suara kekehan Chanyeol terdengar begitu mengganggu.

****

Akhirnya datang. Hari dimana Sojin dan Chanyeol resmi menjadi sepasang kakak-beradik. Hari ini kedua orang tua mereka akan mengucapkan kalimat sakral didepan pendeta, keluarga dan tamu yang hadir.

Sojin duduk disamping calon ibunya yang terlihat sangat gugup. Bibirnya tidak berhenti mengucapkan berbagai rangkaian doa kepada sang kuasa.

Gadis itu menggenggam tangan Soneul dan menatapnya seolah berkata Tidak-apa-apa. Soneul tersenyum kecil sambil membalas genggaman Sojin. Seakan mendapat kekuatan dari genggaman Sojin, kegugupan itu sirna seketika.

“Ayo—“

Sojin menggantungkan kalimatnya sambil terus menatap Soneul.

“Ayo, eomma”

Sungguh. Ini pertama kalinya Sojin memanggil Soneul dengan sebutan eomma. Senyum Soneul mengembang. Bahagia? Tentu saja. Soneul menarik Sojin dan mendekap anak barunya (?) erat. Mengecup singkat puncak kepala Sojin dan membelainya lembut.

“Kajja. Sebelum kita terlambat.

****

Suara tepuk tangan bergema di dalam gedung. Sumpah itu sudah terucap. Tanpa halangan, tanpa ulangan, dan tanpa kesalahan. Senyum tidak pernah luput dari wajah kedua insane itu maupun para tamu yang hadir. Termasuk Sojin yang sedari tadi tersenyum memandang kedua orang tuanya yang tampak begitu serasi.

Chanyeol yang sedari tadi duduk di sebelahnya, menarik tangan Sojin tiba-tiba. “Kita harus memberi mereka selamat.”

Langkah Sojin terseret begitu Chanyeol menariknya tiba-tiba. Nyaris terjatuh, sebelum tangan panjang milik Chanyeol merengkuh pinggangnya dengan cepat. Tidak. Dan tidak akan pernah terlintas dalam pikiran Sojin untuk mengalami adegan yang biasanya hanya terjadi dalam serial drama picisan.

Tatapan mata besar milik Chanyeol yang begitu menusuk seakan memaksa Sojin untuk balik menatapnya.Matanya melebar dan nafasnya terhenti sesaat begitu mendengar suara berat berbisik begitu manis tepat ditelinganya.

“Hati-hati”

Sojin yang sempat menikmati rengkuhan serta tatapan Chanyeol langsung mendorong tubuh besar pria itu saat mendapati Chanyeol sudah memamerkan smirk andalannya.

Sial!

Suara kekehan Chanyeol terdengar begitu menyebalkan. Sojin menghentakkan kakinya dan berjalan cepat, membuat suara bising dari hentakan heelsnya yang beradu dengan lantai marmer.

Tatapan Chanyeol masih mengekori punggung Sojin yang semakin menjauh dan menghilang diantara para tamu undangan yang sedang menikmati sajian yang disediakan. Entah apa yang dipikirkannya, Chanyeol menarik kedua sisi bibirnya membentuk lengkungan tipis.

Menarik.

****

“APA?!”

Teriakan Sojin membuat Chanyeol menumpahkan teh dibaju kesayangannya. Pria itu mengerutkan alisnya dan melemparkan tatapan tajamnya kearah Sojin yang masih sibuk meneriakkan protes pada kedua orang tuanya.

“TIDAK BOLEH!!!”

Sojin bangun dari duduknya dan kembali berteriak sambil menggelengkan kepalanya kuat. Kedua orang tuanya saling menatap melihat reaksi yang tidak terduga dari Sojin.

“Kita akan berangkat lusa, sayang.”

“Lalu kalian meninggalkanku?!”

“Kau tidak sendirian sayang. Chanyeol akan tinggal disini.”

Lagi. Chanyeol kembali menumpahkan teh dikausnya. Sedikit berbeda dari yangh tadi, kali ini Chanyeol melemparkan tatapan tajamnya kearah Soneul. Aku? Tinggal disini? Dengan gadis ini? Berdua?

“TIDAK MAU!”

Chanyeol dan Sojin berteriak bersamaan.  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s