new ff

Peristiwa itu terjadi terlalu cepat. Tanpa rencana, tanpa persiapan. Kedua insan itu memilih untuk mengakhiri semuanya. Meninggalkan sisa kenangan dan luka dihati masing-masing.

___________________________________________________________________________

Ting.. Ting..
Ting.. Ting..

Suara dentingan dari garpu dan piring yang beradu membuat suasana semakin canggung. Gadis berbaju hijau tosca itu menekuk wajahnya sambil sesekali melirik jam yang tergantung manis ditangannya.

“Ayah. Kau yakin wanita itu akan datang?”

Pria separuh baya yang dipanggil ‘ayah’ itu hanya menarik kedua sisi bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis.

Gadis bernama Kim Sojin itu menghela nafanya. Ia bosan. Tentu saja. Bukankah menghabiskan satu  jam di mall itu lebih mengasyikan dibanding menunggu orang yang tidak tahu diri seperti ini?

“Atau tidak bisa kah kita memesan makanan lebih dulu?”

Alis gadis itu bertaut, menunjukan protes pada ayahnya yang sedari tadi sibuk dengan tabnya. Ayahnya hanya mendelik kearahnya singkat kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya.

Ck!

“Ah m-mianhae!”

Sojin mengangkat wajahnya begitu mendengar suara wanita dewasa yang terdengar begitu panik. Sojin mendengus kesal, mengetahui itu adalah kekasih ayahnya.

“Ada pasien kecelakaan yang harus segera ditolong tadi” Ucap wanita itu sambil menarik kursi dan membiarkan tubuhnya beristirahat di kursi empuk restoran itu.

Gadis itu tidak bergeming. Ia masih sibuk dengan dentingan garpu dan piringnya. Entah Sojin salah dengar atau tidak, Ia mendengar suara wanita itu mendesah pelan. Hey yang seharusnya marah itu aku!

“Sojin-ah..” Wanita itu memanggil namanya lembut.

Sojin menatap calon ibunya sinis tanpa mengeluarkan sepatah-katapun. Bibirnya tertekuk ke bawah, mengisyaratkan dengan jelas bahwa gadis itu marah.

“Sojin-ah..”

Suara wanita itu melunak. Tangan lembutnya menggapai puncak kepala Sojin dan membelainya lembut.

“Lihat siapa yang datang..” Wanita itu berbisik pelan sambil melirik pria muda yang entah kapan datang. Pria itu mengenakan pakaian formal dan melemparkan senyum kearah Sojin.

Pria muda itu tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. Cukup tampan dengan tatanan rambut modern serta mata besarnya yang cukup mencolok. Perawakannya cukup tinggi namun—Hey senyum macam apa itu?!

“Park Chanyeol imnida”

Sojin masih memusatkan pandangannya pada Pria yang bernapa Park Chanyeol itu. Tidak, lebih tepatnya memusatkan pandangannya pada pierching bergambar phoenix yang terjepit di telinga kanannya.

“Phoenix..” Sojin menggumam tanpa sadar.

“Ya?”

“A-ani.. Kim Sojin imnida”

Gadis itu masih memandangi benda logam yang tersemat di telinga Chanyeol. Mitologi Yunani.. Apa pria ini tertarik dengan mitologi yunani?

Ayahnya bukan sejarawan, begitupula Ibunya. Tapi Sojin merasa sangat tertarik dengan cerita yang entah fiksi atau fakta. Cerita tentang dewa-dewi Yunani san sebangsanya. Menurutnya itu hal yang menarik.

Chanyeol merubah posisi duduknya. Sungguh, tatapan Sojin sangat mengganggu. Apa ada yang salah?

“Chanyeol akan jadi oppa-mu” Ucap ayahnya singkat. Sojin tidak menggubrisnya. Entahlah, tapi tidak menarik menurutnya.

Pelayan restoran yang datang membuyarkan lamunan Sojin. Gadis itu membuka buku menu dan menunjuk salah satu makanan yang namanya susah untuk disebut (?). Bahasa Perancis Sojin memang minus.

Entah siapa yang memulai, Kedua orang yang sedang dimabuk cinta itu sudah sibuk dengan percakapan serunya, mengabaikan kedua remaja yang menutup mulut masing-masing dengan rapat.

Mata besar milik Chanyeol mulai menyapu setiap inchi dari wajah adik tirinya itu. Rambut panjang bergelombang dan poni yang menutupi keningnya. Serta alis, hidung, mata, bibir dan rahang.

Cantik.

Ya! Apa yang kau pikirkan Park Chanyeol?! Dia itu –calon—adikmu!

“Apa?” Sojin menangkap tatapan Chanyeol yang masih menatap wajah gadis itu. Detik berikutnya Chanyeol membuang pandangannya ke luar jendela. Bodoh!

Sojin mendesis melihat tingkah laki-laki dihadapannya.

Seorang pelayan menghampiri meja mereka dan memberikan hidangan yang tadi mereka pesan. Aromanya sangat menggoda, membuat air liur Sojin hampir menetes.

Keempat manusia kelaparan itu langsung sibuk dengan hidangannya masing-masing. Sojin masih menatap Coq Au Vin miliknya yang masih tersaji rapi diatas meja. Aroma wine yang tercium, menggelitik indra penciuman Sojin.

Délicieux!

Eh, benar kan?

Masa bodo dengan bahasa prancisnya yang minus, Sojin kembali melanjutkan acara kecannya dengan Coq Au Vin yang kini tinggal separuh. Kenikmatan ini membuatnya lupa dengan apapun, termasuk tugas-tugas kuliahnya mungkin?

Apa?

Suara kursi yang bergesek dengan lantai marmer membuat calon keluarga kecilnya itu menoleh. Sojin tiba-tiba berdiri.

“Ayah! Kunci mobil!”

Kedua alis ayahnya berkerut. Tangannya reflek meraba-raba kantung jasnya dan mengambil sesuatu dari sana. Sojin dengan terburu-buru menyambar kunci dan tasnya.

“Mianhae. Aku pulang dulu” Sojin berlari tanpa peduli dengan tatapan bingung ayahnya serta calon ibu dan kakaknya itu. Terdengar suara helaan berat yang keluar dari bibir sang ayah. Anak itu…

****

2 a.m

Suara ketikan laptop dan kuapan Sojin saling mendominasi di ruangan kecil berdinding putih tulang milik Sojin. Tidak ada waktu lagi untuk mengumpat sang dosen yang memberikan script layaknya dialog drama berseries.

Sojin mengambil gelas kopinya yang ketiga dan menenggaknya hingga tak bersisa. Ah..

Menurut Sojin, wajah Lee Songsaenim yang marah lebih mengerikan dibanding Dewa Hades yang siap mengambil nyawa manusia. Berlebihan? Memang.

Sojin mengangguk mantap setelah memeriksa tugasnya yang telah selesai. Ia tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Lihat, Bukankah aku murid teladan? Siapa yang sudi menyelesaikan tugas dari dosen gila itu sampai jam 2 pagi?

Gadis itu merenggangkan kedua otot tangannya yang kaku. Memejamkan mata sejenak kemudian membereskan buku-buku yang berserakan di lantai serta mejanya. Menutup laptopnya dan melemparkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk.

“Aku lelaaaaaaaaah!”

“Kau pikir ini jam berapa Sojin-ah?!”

Masa bodoh dengan ayahnya yang terbangun, Sojin menarik selimut dan membungkus tubuh mungilnya. Matanya terpejam. Tidak butuh lebih dari 3 menit, suara dengkuran kecil mulai terdengar.

****

“Ini?”

“Atau yang ini?”

“Sojin-ah, bagaimana menurutmu?”

Sojin mengalihkan pandangannya dari majalah fashion yang menurutnya lebih menarik dibanding melihat wanita yang bahkan tidak muda lagi, memutar tubuhnya didepan kaca sambil melakukan beberapa pose bak model terkenal.

“Good”

Srek!

“Ya! Kembalikan majalahnya!”

“Tidak, sampai kau serius menilai penampilanku”

Sojin mendengus kesal. Hari ini begitu melelahkan. Lelah untuk hati dan fisiknya. Setelah mengerjakan tugas sampai pagi, ia dipermalukan didepan mahasiswa lain oleh dosen gila itu.

Kupikir kau bukan murid SD lagi, Nona Kim..

Perkataan macam apa itu?! Hey, tidak ada yang salah dengan scriptnya! Ia mengerjakan dengan sungguh-sungguh. Bahkan Ia tidak pernah mengerjakan apapun seserius ini. –Itulah mengapa Sojin selalu menjadi bahan omelan para dosennya–

“Ayolah Sojin-ah. Kau tidak ingin aku menjadi bahan tertawaan dihari pernikahanku sendiri, kan?”

“Everything for you, madam” Jawab Sojin malas. Ia berdiri, meninggalkan sofa dan menghampiri calon ibunya yang sudah mengenakan wedding dress lengkap dengan tiara yang tersemat dirambutnya yang bergelombang.

“Otteyo?”

Sojin menatap wanita dihadapannya dari atas sampai bawah. Tidak buruk. Wanita itu cantik. Bahkan kalau boleh jujur, ia lebih cantik dari mendiang ibunya. Ibu kandungnya yang meninggal 8 tahun lalu.

“Yeppeuda..” Kedua sisi bibir Sojin tertarik membentuk senyum tipis.

Entah kenapa Sojin merasa harus menyebutkan nama calon ibunya. Park Soneul. Ia cantik bukan?

Klining.. Klining..
Klining.. Klining..

Bel yang terpasang dipintu masuk berbunyi. Seorang pria bertubuh jangkung, menyembulkan kepalanya sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Park Chanyeol..

Ia berjalan menghampiri Ibunya dan memeluk serta mencium pipi sang ibu singkat. Reflek, Sojin menyingkirkan diri dan membiarkan calon anggota keluarganya berpelukan. Selesai dengan ibunya, Chanyeol menghampiri Sojin sambil merentangkan tangannya dan tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.

“M-mau apa?!”

Senyumnya sirna dengan cepat. Chanyeol menatap Sojin dengan mata besarnya, bingung. “Er..Memelukmu?”. Sojin melongo mendengar jawaban polos Chanyeol. Tanpa sadar Sojin melangkahkan kakinya mudur menjauhi Chanyeol, kikuk. Apa-apaan pria ini?

“Memeluk calon adikku?”

Ucap Chanyeol ragu. Senyum canggungnya mengembang melihat ekspresi bingung Sojin yang terpampang jelas di wajah mungilnya. Alis gadis itu bertaut melihat tingkah aneh pria yang merupakan calon kakaknya.

“Apa kabar adik kecil?” Chanyel menarik bahu Sojin dan memeluknya pelan. Tangan besarnya membelai rambut Sojin lembut. Suara tawa garing milik Chanyeol terdengar tepat ditelinga Sojin. Gadis itu sontak mendorong tubuh Chanyeol dan mengambil beberapa langkah mundur.

Sojin harus mendongak untuk menatap wajah Chanyeol. Sial. Dia terlalu tinggi!

“Mian” Ucap Chanyeol pelan sambil menggaruk lehernya yang kuyakin itu tidak gatal. Sojin hanya membuang wajahnya, berpura-pura tidak mendengar. Gadis itu langsung menyibukkan diri dengan tumpukan majalah diatas meja.

Chanyeol sudah melesat entah kemana, mengikuti sang ibu mencari wedding dress yang cocok untuk tema pernikahan orang tuanya. Sojin menghela nafas. Ini pertama kalinya Ia bertemu laki-laki aneh, macam Chanyeol.

****

“Gadis itu membeciku?”

Chanyeol duduk disofa empuk berwarna coklat sambil menatap wajah ibunya lewat kaca besar dihadapan Ibunya. Entah mendengar atau tidak, Soneul masih sibuk menatap bayangan dirinya yang terpantul di kaca.

“Sojin. Namanya Sojin, Chanyeol-ah”

“Ya, terserahlah. Kurasa dia membenciku”

Ibunya berbalik dan menatap wajah anak laki-lakinya yang sedang mengkercucutkan bibirnya. Suara kekehan kecil terdengar. Soneul duduk disebelah Chanyeol dan menggenggam tangan hangat milik Chanyeol.

“Kenapa berpikiran begitu?”

Pria itu hanya mengendikkan bahunya acuh sambil mendengus pelan.

Park Chanyeol. Laki-laki yang selalu mendapat perhatian dimanapun. Ia tampan, pintar, atletis, dan kaya. Hey, wanita mana yang tidak rela mengantri untuk mendapatkannya? Ini pertama kali baginya, ada wanita yang menolak pelukannya. Pelukan seorang Park Chanyeol.

“Sojin hanya belum mengenalmu Yeol-ah. Dia anak yang baik” Ucap Soneul lembut. Entah Sojin harus bangga atau malah tersinggung mendengarnya. Baik? You don’t know anything, madam.

“Sudahlah. Kau dan Sojin harus segera fitting baju juga” Soneul menarik lengan Chanyeol dan menggandengnya keluar ruangan. Lagi-lagi senyumnya mengembang saat melihat Sojin sudah rapi dengan dress senada dengan gaun pernikahannya.

“Woah! Neomu yeppo!” Seru Soneul. Sojin hanya tersenyum seadanya sambil terus memperhatikan pantulan dirinya dikaca. Gaun putih pendek yang memperlihatkan leher serta kakinya yang jenjang membuat Sojin tampak lebih feminin.

“Bagaimana Chanyeol-ah?”

Chanyeol menatap Sojin dari ujung pita yang terikat menghiasi rambutnya sampai sepatu kaca yang mengkilat bak Cinderella. Chanyeol mengangguk pelan sambil berlalu. Ia berjalan menuju kamar ganti sambil membawa satu stel tuxedo serba putih.

Sojin menghempaskan tubuhnya diatas sofa dan memejamkan matanya sejenak. Moodnya kurang baik hari ini. Ia ingin pulang. Butuh refreshing lebih tepatnya. Menikmati ice cream atau sekedar bercanda dengan teman-temannya, mungkin?

Suara dehaman berat membuat Sojin dengan malas membuka matanya kembali. Chanyeol sudah berdiri dihadapannya menggunakan tuxedo putih mewah. Sempurna.

Rambut pendeknya yang ditata asal, mata besarnya, hidung mancungnya, bibir tipisnya, semuanya. Sempura. Sojin menatapnya tanpa berkedip. Matanya terus menyapukan pandangannya pada setiap titik paling menarik milik Chanyeol.

Hey, bagaimana bisa seseorang pria biasa bisa bertransformasi secepat ini hanya dengan tuxedo?

Sojin menggelengkan kepalanya. Bukan. Bukan model ataupun artis terkenal, Ia calon oppamu Sojin-ah. Ayo sadar!

“Terpesona?” Goda Chanyeol sambil tersenyum menatap Sojin.

“Jangan harap, Tuan Park”

Sojin menyambar tas dan berjalan menjauhi Chanyeol, menuju ruang ganti. Ini menyebalkan. Suara kekehan Chanyeol terdengar begitu mengganggu.

****

Akhirnya datang. Hari dimana Sojin dan Chanyeol resmi menjadi sepasang kakak-beradik. Hari ini kedua orang tua mereka akan mengucapkan kalimat sakral didepan pendeta, keluarga dan tamu yang hadir.

Sojin duduk disamping calon ibunya yang terlihat sangat gugup. Bibirnya tidak berhenti mengucapkan berbagai rangkaian doa kepada sang kuasa.

Gadis itu menggenggam tangan Soneul dan menatapnya seolah berkata Tidak-apa-apa. Soneul tersenyum kecil sambil membalas genggaman Sojin. Seakan mendapat kekuatan dari genggaman Sojin, kegugupan itu sirna seketika.

“Ayo—“

Sojin menggantungkan kalimatnya sambil terus menatap Soneul.

“Ayo, eomma”

Sungguh. Ini pertama kalinya Sojin memanggil Soneul dengan sebutan eomma. Senyum Soneul mengembang. Bahagia? Tentu saja. Soneul menarik Sojin dan mendekap anak barunya (?) erat. Mengecup singkat puncak kepala Sojin dan membelainya lembut.

“Kajja. Sebelum kita terlambat.

****

Suara tepuk tangan bergema di dalam gedung. Sumpah itu sudah terucap. Tanpa halangan, tanpa ulangan, dan tanpa kesalahan. Senyum tidak pernah luput dari wajah kedua insane itu maupun para tamu yang hadir. Termasuk Sojin yang sedari tadi tersenyum memandang kedua orang tuanya yang tampak begitu serasi.

Chanyeol yang sedari tadi duduk di sebelahnya, menarik tangan Sojin tiba-tiba. “Kita harus memberi mereka selamat.”

Langkah Sojin terseret begitu Chanyeol menariknya tiba-tiba. Nyaris terjatuh, sebelum tangan panjang milik Chanyeol merengkuh pinggangnya dengan cepat. Tidak. Dan tidak akan pernah terlintas dalam pikiran Sojin untuk mengalami adegan yang biasanya hanya terjadi dalam serial drama picisan.

Tatapan mata besar milik Chanyeol yang begitu menusuk seakan memaksa Sojin untuk balik menatapnya.Matanya melebar dan nafasnya terhenti sesaat begitu mendengar suara berat berbisik begitu manis tepat ditelinganya.

“Hati-hati”

Sojin yang sempat menikmati rengkuhan serta tatapan Chanyeol langsung mendorong tubuh besar pria itu saat mendapati Chanyeol sudah memamerkan smirk andalannya.

Sial!

Suara kekehan Chanyeol terdengar begitu menyebalkan. Sojin menghentakkan kakinya dan berjalan cepat, membuat suara bising dari hentakan heelsnya yang beradu dengan lantai marmer.

Tatapan Chanyeol masih mengekori punggung Sojin yang semakin menjauh dan menghilang diantara para tamu undangan yang sedang menikmati sajian yang disediakan. Entah apa yang dipikirkannya, Chanyeol menarik kedua sisi bibirnya membentuk lengkungan tipis.

Menarik.

****

“APA?!”

Teriakan Sojin membuat Chanyeol menumpahkan teh dibaju kesayangannya. Pria itu mengerutkan alisnya dan melemparkan tatapan tajamnya kearah Sojin yang masih sibuk meneriakkan protes pada kedua orang tuanya.

“TIDAK BOLEH!!!”

Sojin bangun dari duduknya dan kembali berteriak sambil menggelengkan kepalanya kuat. Kedua orang tuanya saling menatap melihat reaksi yang tidak terduga dari Sojin.

“Kita akan berangkat lusa, sayang.”

“Lalu kalian meninggalkanku?!”

“Kau tidak sendirian sayang. Chanyeol akan tinggal disini.”

Lagi. Chanyeol kembali menumpahkan teh dikausnya. Sedikit berbeda dari yangh tadi, kali ini Chanyeol melemparkan tatapan tajamnya kearah Soneul. Aku? Tinggal disini? Dengan gadis ini? Berdua?

“TIDAK MAU!”

Chanyeol dan Sojin berteriak bersamaan.  

I Got You!

I Got You!
Author : Audrey Kim
Rating : PG-13
Cast : Ulzzang ‘Lee Chi Hoon’
jung Nara ‘OC’
Genre : Frienship, Romance

i-got-u-cover

 

“Chihoon-ah~~” Seorang yeoja yang berparas cukup manis berlari kecil kemudian memeluk seorang namja yang luar biasa tampan dari belakang.

 

“Nara-ya! Biasakah sehari saja kau tidak membuat telingaku tuli?!” Semprot Chihoon –namja yang dipeluknya tadi-. Tidak ada ekspresi senang sama sekali diwajah tampannya. Nara yang sudah terbiasa dibentak oleh Chihoon itu hanya memamerkan deretan gigi putihnya. Gadis itu melepas pelukanya dan duduk disebelah Chihoon.

 

Nara mengeluarkan kotak makan baerwarna pink dan meletakannya diatas meja. Lalu menyodorkan kotak makan itu kearah Chihoon. “Aku tahu kau belum makan” Nara menunjukan senyum termanis yang Ia miliki untuk
menarik hati Chihoon.

 

“Aku sudah makan” Jawab Chihoon tanpa menolehkan wajahnya sama sekali. Nara hanya mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Chihoon. Masih dengan ekspresi yang sama, Nara membuka kotak makannya sendiri.

 

“Ayolah~ Aku sudah bersusah payah membuatnya! Makanlah sedikiiit!” Nara menyodorkan bulgogi yang dijepitnya dengan sumpit ke mulut Chihoon.

 

“Shiro! Aku sudah kenyang!” Chihoon menolak makanan itu mentah-mentah tanpa meliriknya sedikitpun. Padahal bekal yang dbuat Nara sangat terlihat lezat. Kemampuan memasak Nara memang tidak diragukan lagi!

 

“Makanlah Chihoon. Kasihan Nara” Seorang namja tampan menghampiri Chihoon dan Nara sambil menggandeng tangan yeojachingunya. Mereka berdua terlihat begitu serasi dengan T-Shirt couple yang dikenakannya.

 

“Kau dengar? Taejun oppa saja mengerti. Ayo makan!” Nara merengek sambil tetap menyodorkan bulgogi andalannya. Chihoon melahap bulgogi itu dengan terpaksa. Nara hanya memamerkan senyum kemenangannya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Taejun.

 

Pletak!

 

“Ya! Ya! Apa yang kau lakukan hah?!” Yerin –Pacar Taejun- menjitak kepala Nara cukup keras. Nara hanya meringis menahan sakit sambil mengelus-elus kepalanya. “Ya! Aku hanya bercanda!” Nara berteriak membela diri.

 

“Yerin-ah. Harusnya kau menjitaknya lebih keras. Kurasa ada yang salah dengan otaknya hari ini” Ucap Chihoon enteng sambil menyesap Ice Chocolate Caramelnya. Taejun yang sedaritadi diam, meledakkan tawanya begitu mendengar ejekan Chihoon.

 

Nara meniup poninya kesal lalu menutup kotak bekalnya dan memasukkannya kedalam tas. “Biasakah kalinan berdua lebih akur? Bukankan kalian telah bersama sejak SMP?” Yerin membuka suara sambil memandang Chihoon dan Nara bergantian.

 

“Ya! Kau tahu kan aku selalu baik pada namja ini?! Tapi selalu saja dia menolak kebaikanku! Padahal aku tulus melakukannya!” Ucap Nara penuh emosi.

 

“Aku tidak butuh” Lagi-lagi Chihoon menjawab dengan wajah coolnya. Membuat wanita manapun akan jatuh hati dalam pandangan pertama.

 

“ck! Kau menyebalkan!” Nara menyambar tasnya kemudian berjalan cepat meninggalkan Chihoon, Taejun dan Yerin. Taejun dan Yerin hanya berpandangan kemudian melemparkan tatapannya kearah Chihoon.

 

“Dia tidak mungkin benar-benar marah padaku” Chihoon mengeluarkan evilsmirknya sambil menggunakan jaket untuk menghangatkan dirinya. Kemudian berjalan meninggalkan Taejun dan Yerin yang masih bengong (?)

 

“Haaah! Tidak sadarkah mereka pada perasaan masing-masing?!” Ucap Yerin gemas sambil menatap punggung Chihoon yang semakin menjauh.

 

“How can I love when I’m afraid to fall in love?”

 

****

 

<Nara masuk ke kelasnya dengan wajah suntuk. Duduk dikursinya kemudia menekungkupkan wajahnya diatas meja. Mencoba mencuri beberapa menit sebelum masuk untuk memejamkan matanya sebentar.

 

Semalam Ia sibuk menangisi hadiah yang diberikan Chihoon pada saat ulangtahunnya beberapa hari lalu. Karena terlalu kesal dengan ucapan Chihoon kemarin, Nara melempar hadiah itu sekeras mungkin untuk melampiasan kekesalannya.

 

Sebuah miniatur menara pisa dari Negara Italia itu patah setelah dilepar cukup keras oleh Nara. Satu detik kemudian, gadis bodoh baru menyadari kebodohannya (?). Miniatur itu adalah hadiah pertama dari Chihoon yang merupakan benda yang paling disayanginya.

 

“Nara-ya!” Yerin berteriak sambil menepuk bahu Nara pelan. Reflek, Nara mengangkat kepalanya dan menatap Yerin sinis.

 

“Omo! Apa yang terjadi padamu?!” Yerin menangkupkan wajah Nara dengan kedua tangannya. Nara hanya mengerucutkan bibirnya sambil merusaha melepas tangan Yerin dari wajahnya.

 

“Miniaturnya patah…..” Cairan bening mulai memenuhi kedua mata Nara. Yerin mengerti apa yang dikatakan Nara. Karena hanya satu miniatur yang paling berharga menurut Nara. Perlahan, cairan bening itu turun membasahi pipi mulus Nara.

 

Yerin menghapus air mata yang turun dari mata Nara kemudia memeluk sahabatnya tersebut. Yerin membiarkan Nara menangi dipelukannya. “Sudah.. Sudah.. Han Songsaenim sebentar lagi datang” Yerin menepuk-nepuk punggung Nara pelan.

 

Nara mengambil beberapa helai tissue dari tasnya kemudian mengusap air matanya. Gadis itu kembali menelungkupkan wajahnya sebelum orang lain melihatnya.

 

“Why can’t I hate you? Why can’t I stop thinking about you?”

 

****

 

Drrt… Drrt..
Drrt… Drrt…

 

Suara getaran ponsel membuat Nara benar-benar terganggu. Sebuah pesan singkat masuk dan langsung dibuka oleh Nara.

 

Chihoon Oppa– 14 October 2012. 12:47
“Eoddiesseo?”

 

Nara menautkan alisnya. Tidak biasanya Chihoon mengirimkan pesan padanya apalagi yang menanyakan tentang dirinya. Biasanya hanya meminta agar Nara mengembalikan barang-barang yang ia pinjam. Nara mengetik pesan untuk balasan dengan cepat.

 

Nara~ra~ra~ — 14 October 2012 12:51
“Di kelas. Waeyo?”

 

Chihoon Oppa– 14 October 2012. 12:54
“Aniyo. Tadi Yerin yang tanya”

 

Nara hanya membulatkan bibirnya saat membaca pesan terakhir yang dikirim Chihoon. Jujur, Nara masih kesal dengan ucapan Chihoon kemarin. Tidak, Tidak! Bukan hanya kemarin, tapi semua ucapak Chihoon yang tidak enak didengar.

 

Rasanya Nara ingin menjambak dan membuang Chihoon ke Sungai Han. Tapi apadaya, apa yang dikatakan hati kecilnya berbeda. Hanya melihat wajah Chihoon saja bisa membuat Nara tenang. Nara menghembuskan nafasnya berat. Ia benci setiap kali dadanya sesak saat memikirkan Chihoon. Ia benci setiap kali air matanya jatuh saat memikirkan Chihoon.

 

Nara mengambil earphone dan menyumpal telinganya. Ia memutar lagu dan berharap itu bisa membuatnya tenang. Air matanya kembali turun. Nara memegang dadanya yang terasa sesak. Hidungnya mencoba mencari oksigen untuk memenuhi ruang-ruang di dadanya.

 

Heaven – Ailee

 

“When I hear your voice, it feels like I’m dreaming
I smile for you every day, I pray for you
You are my heaven”

 

****

 

Nara melangkahkan kakinya pelan di bahu jalan kota Seoul. Sesekali menendang kerikil-kerikil kecil yang mengiasi jalanan itu. Entah sudah berapakali Nara menghela nafasnya. Setelah pulang sekolah tadi, Nara memutuskan untuk menghilangkan jenuh diotaknya. Mungkin main di taman atau makan ice cream?

 

Nara menghapiri pedagang Ice cream keliling dan memesan ice cream rasa Vanilla kesukaaannya. Setelah membayar dengan beberapa lembar uang, Nara duduk dibangku taman. Pemandangan yang jarang ia lihat semenjak masuk SMA. Sesekali Nara tersenyum melihat anak-anak kecil yang bermain di taman.

 

Stop girl, in the name of love
Stop girl, in the name of love eh eh
Stop girl, in the name of love
Kkumeun anilkkeoya I know your love isn’t real

 

Handphone Nara berbunyi menandakan ada pesan yang masuk. Lagi-lagi Chihoon. Kenapa akhir-akhir ini namja itu jadi bawel sekali sih?!

 

Chihoon Oppa– 14 October 2012. 17:27
“Eoddiesseo?”

 

Ada perasaan hangat saat Chihoon menanyakan keadaannya. Nara sama sekali tidak berniat membalas apapun. Bukankah dia tidak membutuhkanku? Nara tersenyum miris.

 

Hadphone Nara berbunyi lagi. Kali ini ada telfon yang masuk. Nara sedikit terkejut saat tahu yang meneleponnya adalah Chihoon. Nara mengangkat teleponnya dengan gugup.

 

“Kau dimana hah?! Sudah jam segini dan kau belum pulang kerumah?!” Nara sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya. Teriakan Chihoon benar benar membuat telinganya hampir tuli. Dasar namja idiot!

 

“Kenapa kau membentakku hah?” Jawab Nara Emosi

 

“Jawab aku! Kau di mana?!” Chihoon tidak menjawab pertanyaan Nara. Lagi-lagi membentak Nara dengan kasar seolah ucapannya adalah yang terpenting.

 

“Di taman. Kena–?” Belum sempat Nara menyelesaikan kalimatnya, sambungan telepon sudah terputus. Emosi Nara sudah hampir mencapai puncak. Namja itu kelewatan!

 

Nara masih sibuk dengan berbagai pikiran yang memenuhi otaknya. Sesekali mengumpat Chihoon karena selalu bertindak seenaknya. Nara memejamkan matanya mencoba menghilangkan kepenatan yang menyerang kepalanya.

 

Tiba-tiba seseorang menarik tangannya kasar. Reflek Nara bangun dan memberika tatapan sinis kearah orang itu. Nara cukup terkejut saat melihat orang yang menarik tangannya adalah Chihoon. Keringat memenuhi pelipis Chihoon. Nafasnya menderu cepat.

 

“Apa?” Jawab Nara ketus. Matanya masih menatap Chihoon tajam. Chihoon membanting genggaman tangannya kasar.

 

“Kenapa kau merusaknya?” Ucap Chihoon pelan. Hampir tidak terdengar. Tapi Nara masih bisa mendengarnya. Nara menatap Chihoon bingung.

 

“Miniaturnya! Miniatur yang kuberikan padamu! Bukankah kau bilang kau suka Itali? Lalu kenapa kau merusaknya?!” Chihoon meluapkan emosinya. Membentak sambil menatak Nara. Tatapan yang sulit diartikan. Marah, Kecewa, semuanya terpancar jelas dimata namja itu.

 

“A-aku…” Tenggorokan Nara tercekat. Darimana ia tahu?

 

“Kau tahu bagaimana rasanya saat hadiah yang kau berikan kepada orang yang kau sayang, kemudian
dirusaknya?” Chihoon menatap mata Nara dalam. Suaranya sedikit serak. Tenggorokannya terasa kering.

 

Nara mencoba mencerna apa yang dikatakan Chihoon. Sayang?

 

Chihoon enghela nafasnya berat. Merutuki ucapan bodoh yang keluar begitu saja dari bibirnya. Keduanya mematung, sibuk dengan pikiran masing-masing.

 

Dengan satu tarikan, Chihoon menarik tangan Nara dan memeluknya begitu erat. Aroma strawberry menyeruak memasuki indra penciumannya saat namja itu membenakan wajahnya diantara helaian rambut Nara.

 

“A-apa…” Suara Nara tertahan. Jantungnya sibuk memompa darah lebih cepat dari biasanya. Ia merasakan darahnya berdesir saat jari-jari Chihoon mebelai rambutnya lembut. “Sebentar saja…” Ucap Chihoon pelan, tepat di telinga Nara yang berhasil membuat yeoja itu merasakan adanya ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya

 

TUK!

 

“YA!” Nara berteriak sambil memegangi dahinya yang baru saja mendapat sentilan dari Chihoon. Suara kekehan khas dari namja itu terdengar saar Nara mendorong tubuh Chihoon pelan.

 

“You got me, Nara-ya…” Chihoon mengacak-acak rambut Nara pelan. Nara hanya memasang tampang bodoh, tanda ia tidak mengerti dengan ucapan Chihoon barusan.

 

“Saranghae..” Ucap Chihoon sambil menatap mata Nara dalam. Yeoja itu merasakan ada kehangatan saat Chihoon menautkan jari-jarinya disela-sela jemari Nara. Bibirnya tertarik begitu saja mendengar satu kata yang paling ingin di dengarnya dari bibir namja itu.

 

Keduanya tidak bisa menyembunyikan perasaan senang yang menghangatkan hati mereka masing-masing. Senyuman manis tersungging indah di bibir keduanya.

 

“Finally.. I got you, baboya!” Nara menjijit dan mengecup pelan bibir Chihoon yang sontak membuat namja itu membulatkan kedua matanya. Nara hanya memamerkan deretan gigi putihnya.

 

TUK!

 

“Jangan nakal” Lagi-lagi Chihoon mendaratkan sentilannya di dahi Nara sambil memamerkan smirk&nya. Detik kemudian Chihoon berlari begitu melihat ekspresi marah dari Nara.

 

“Ya!!!! Jangan lari kau, jeleeeek!!!” Nara berusaha mengejar Chihoon yang sudah berlari menjauh.

 

 

Be mine, please..
You know me, right?
I’ll protect you untill the end!
Thank’s and I love you..

Destiny

Destiny
Author : Audrey Kim
Main Cast : Huang Zi Tao of ‘EXO-M’
Kim Sunri (OC)
Genre : Romance
Rating : PG-14
Disclaimer :    My 4th ff~ Enjoy! Story and All cast is mine :p

 

*******

 

Seorang wanita cantik berdiri menghadap Sungai Han dengan tatapan kosong. Sedari tadi mata indahnya tidak berhenti mengeluarkan cairan bening yang mewakili seluruh perasaannya saat itu. Berkali-kali mengusap pipi mulusnya, namun dengan setia air mata itu kembali turun.

 

Baby don’t cry, tonight
eodumi geodhigo namyeon
Baby don’t cry, tonight
eobseotdeon il-i dwell geoya

 

Handphone gadis itu berbunyi menandakan adanya panggilan masuk. Tidak ada niatan dalam benak gadis itu untuk mengangkatnya. Ia masih sibuk dengan berbagai pikiran yang berkecimpung di dalam otaknya. Membuatnya meringis beberapakali menahan sakit di dadanya.

 

Ia melirik ke arah jam tangan yang menghiasi pergelangan tangannya. Mengusapnya perlahan dan tersenyum miris. “Eomma.. Eoddiesso?”Ucapnya pelan. Air matanya kembali jatuh. Menghela nafasnya berat kemudia melangkahkan kakinya pergi.

 

@@____

 

*flashback*

 

Kim Sunri –nama gadis itu, duduk di meja makan sambil menghadap sang ayah. Hening menyelimuti keduanya yang sibuk dengan pikiran masing-masing.

 

“Aku tidak sanggup lagi..” Pria paruh baya yang merupakan ayah kandung Sunri menghela nafasnya berat. Menundukkan wajahnya. Tak tega melihat ekspresi anak semata wajangnya.

 

“Aku butuh uang untuk mencari ibumu.. Dan yang bisa ku harapkan hanya kau, Sunri..” Pria itu mulai mengangkat wajahnya, menatap dalam kearah dua bola mata berwarna coklat, warisan sang ibu. Tubuh pria itu sedikit bergetar, menahan tangis yang sedari tadi ditahannya.

 

“Menikahlah dengan anak temanku. Kau akan bahagia bersamanya”

 

Ucapan pria tua itu sukses membuat Sunri meneteskan air mata. Ia menggigit bibirnya untuk menahan isakan yang memaksa keluar dari bibir mungil gadis itu. “A-ayah menjualku?” Ucapnya terbata. Tenggorokannya terasa kering. Sunri menarin nafas panjang untuk mengisi rongga dadanya yang terasa sesak.

 

“B-bukan begitu Sunri-ya…” Ayahnya menggeleng kuat. Pria itu menggenggam lengan Sunri dan detik kemudian menarik anak semata wayangnya itu kedalam pelukannya. Meredam isakan kecil yang menggema di ruangan itu. Suara isakan dan detik jarum jam menjadi saksi bisu perasaan mereka malam itu.

 

@@____

 

Kim Sunri dan Ayahnya memasuki sebuah restoran berbintang dengan baju terbaik yang ia miliki. Dress merah elegan yang memperlihatkan bahu dan sedikit pahanya. Langkah kakinya berhenti di sebuah meja yang sudah dihadiri beberapa orang. Ayahnya salah satunya.

 

“Lama menunggu?” Tanya Sunri pelan. Wajahnya tidak memperlihatkan senyum sedikitpun. Tapi tidak mengurangi kecantikan dari gen terbaik sang ibu yang telah melahirkannya.

 

“Tidak, Silahkan duduk” Seorang laki-laki paruh baya menyuruhnya duduk dengan senyum mengembang memperlihatkan deretan giginya yang putih. Disebelahnya ada seorang wanita tua yang Seuri akui, masih terlihat sangat cantik.

 

“Seunri-ya, kurasa aku tidak perlu mengenalkannya lagi padamu. Kau mengenalnya kan?” Ucap pria paruh baya itu dengan aksen yang sedikit aneh. Tidak terdengar seperti orang korea pada umumnya. Seunri hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.

 

“Jadi, kapan kalian akan menikah?” Kali ini Ayahnya yang mengambil suara. Membuat Seunri dan Zi Tao –Anak pria itu– seketika menoleh sambil melebarkan kedua mata mereka.

 

“Lebih cepat lebih baik bukan?” Lanjut wanita tua itu. Senyum tidak pernah lepas dari ketiga orang tua itu. Berbeda dengan Seunri dan Zi Tao, yang bahkan sedari tadi tidak menunjukan senyum kebanggaan masing-masing

 

“Setidaknya beri aku waktu untuk mengenalnya lebih jauh. Yang mau menikah itu aku, bukan kalian” Jawab Zi Tao ketus. Yang kemudian hanya dijawab dengan senyuman kecut milik wanita itu.

 

“Baik. Aku tidak mau terlalu ikut campur. Itu semua terserah kalian. Tapi tidak ada kata ‘batal’ dalam pernikahan ini. Arasseo?” Ayah Zi Tao memberi penengah. Namun tetap tidak melegakan bagi kedua insan yang sebentar lagi akan menjadi suami-isteri tersebut.

 

“Bagaimana jika mulai malam ini?” Ucapan wanita tuamenyebalkan itu berhasil membuat mata Seunri mendelik tajam. Apa maksud wanita ini?!

 

“Ah.. M-maksudnya, bagaimana jika mulai malam ini Seunri tinggal di apartement Zi Tao?” Ucap wanita itu masih dengan senyum yang dibuat-buat. Salah tingkah karena mendapat tatapan tajam dari Seunri dan Zi Tao.

 

“Jangan menuntut macam-macam. Sudah bagus aku mau menuruti permintaan bodoh kalian. Aku pulang!” Zi Tao berdiri sambil membenarkan tuxedo hitam yang dipakainya. Melangkah keluar tanpa memperdulikan tatapan bingung kedua orang tuanya

 

@@________

 

“Dimana kau?” Tanya Zi Tao pada Seunri sambil mengemudikan mobilnya. Hari ini, –untuk pertamakalinya—Tao akan bertemu dengan Seunri tanpa kedua orang tua mereka. Bukankah aku harus mengenalnya dulu? Apakah cukup menikah, hanya mengetahui namanya saja?

 

“Di rumah. Kenapa?” Jawab seunri sambil mengecilkan volume televisinya agar tidak terlalu bising.

 

“Aku kesana sekarang” Dan sambungan terputus. Seunri mulai mengerti sifat ketus milik Tao. Jadi ia pikir, Buat apa aku bermanis-manis pada lelaki yang ketusya luar biasa itu?

 

Seunri turun dari sofa empuknya dan membersihkan beberapa bungkus cemilan yang sudah habis dan menata ulang bantal sofa yang berantakan. Bagaimanapun juga yang mau datang adalah calon suaminya. Ia tidak mau diberi kesan cewek malas.

 

Ting Tong, Ting Tong
Ting Tong, Ting Tong

 

Suara bel rumah Seunri berbunyi menandakan ada tamu yang datang. Seunri langsung membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Zi Tao masuk.

 

“Mau apa?” Tanya Seunri to the point yang membuat alis Zi Tao berkerut. “Bisakah kau bersikap lebih manis padaku?” Zi Tao menatap mata Seunri tajam.

 

Well, Siapapun tidak akan tahan berlama-lama ditatap oleh tatapan tajam milik Tao. Jujur, gadis itu masih tidak tahu seperti apa sifat Zi Tao. Seunri hanya mengikuti jalan permainan yang dibuat Zi Tao.

 

“Ck! Lupakan!” Zi Tao membating tubuhnya di sofa empuk milik Seunri. Gadis itu ikut duduk di sebelah Zi Tao. Hening menyelimuti mereka berdua. Tidak ada satupun yang memilih membuka mulut dan mengeluarkan suara. Hingga akhirnya suara manis milik Seunri memecahkan keheningan.

 

“Boleh aku tanya sesuatu?” Ucap Seunri sambil menghadap Zi Tao. Menatam matanya cukup dalam. Seketika membuat Zi Tao merinding (?). Laku-laki itu hanya mengangguk pelan tanpa membalas tatapan Seunri.

“Kenapa kau menerima perjodohan ini?” Seunri masih menatap mata Zi Tao dalam. Detik berikutnya Zi Tao menautkan alisnya bingung. Pertanyaan macam apa itu?

 

“Entahlah.. Aku tidak terbiasa menolak pertintah orang tua. Lagipula tidak ada ruginya kan?” Untuk pertamakalinya –bagi Seunri– Zi Tao berbicara cukup panjang tanpa nada ketus didalamnya.

 

“Tentu saja ada! Apa kau tidak punya seseorang yang kau….. Sayang?” Seunri memberi jeda sedikit. Takut jika omongannya akan membuat Zi Tao tersinggung.

 

“Jangan berbicara seakan aku tidak laku” Zi Tao mengerucutkan bibirnya sedikit. Dan untuk pertamakalinya –lagi Seunri melihat ekspresi lain dari Zi Tao. “E-eh.. Bukan seperti itu!” Seunri mengibas-ngibaskan kedua tangannya salah tingkah.

 

“Seseorang yang ku sayang ya.. Entahlah. Tapi kupikir kau bisa menjadi salah satunya” Zi Tao menundukan kepalanya. Lebih tepatnya menyembunyikan senyuman yang tersungging manis di wajah tampannya. Seketika muncul rona merah di kedua pipi Seunri.

 

Seunri hanya tertawa kecil mendengar jawaban Zi Tao. Sulit untuk menyembunyikan senyumannya. Seunri merasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat. Sepecepat ini kah?

 

“Ya! Ngomong-ngomong mau apa kau kesini?” Seunri mecoba mengalihkan pembicaraan. “Bukankah sudah ku bilang aku ingin mengenalmu lebih jauh?” Zi Tao memberikan senyum terbaiknya. Dan lagi-lagi, Seunri merasakan darahnya berdesir cepat.

 

@@______

 

Just Be Friend

Tittle. : Just Be Friend

Author : AudreyKim

Rating : PG-13

Genre. : Romance , Friendship

Main Cast. : – Oh Yoora (OC)
– Cho Kyuhyun
– Park Chorong

Other Cast. : You can find by yourself XD

Disclaimer. : Ini ff ke-3 ku loh~ Thank’s a lot for my Sister yang udah kasih hasil RP-annya dan rela kujadiin ff disini~ Semua castnya aku ubah, dan semoga suka sama ceritanya ^^ Give me support with your comment and like •v•

~Happy Reading~

“Lagu apa ini?” ucap Yoora di tengah hiruk pikuk kelas saat itu. Seorang gadis berumur 17 tahun yang duduk di kelas 2 SMA. Di playlist iPodnya tertera lagu berjudul Just Be Friend dari Megurine Luka, lagu tersebut sudah lama mendiami iPad gadis bermata coklat ini, tapi baru kali ini ia dengarkan. Headset berwarna putih yang senada dengan warna iPodnya terus terpasang di telinganya karena kebetulan saat itu pelajaran sedang kosong di kelasnya.

Yoora terus menatap kosong riuh kelas dengan tatapan datar tanpa melepas headsetnya yang masih berisi lagu berjudul Just Be Friend tersebut. Kata pertama bagi Yoora untuk mendeskripsikan lagu itu ialah, aneh. Nada terdengar cukup riang dengan harmonisasi nada yang sedikit keras. Tapi liriknya malah terkesan menyedihkan. Lagu itu mengisahkan tentang sepasang kekasih yang putus sebelah pihak. Yoora cukup menikmati lagu itu. Orang yang terbayang di benaknya saat mendengarkan lagu itu ialah seniornya tercinta.

 

Nam Woohyun. Sudah 2 tahun ia jatuh cinta pada lelaki yang memiliki senyum hangat tersebut. Hanya saja selama 2 tahun pula gadis ini bertepuk sebelah tangan, karena Woohyun yang merupakan ace di team basket sekolahnya merupakan orang yang sangat populer.

 

Hanya saja gosip mengatakan Woohyun dekat dengan seorang gadis tercantik yang duduk di kelas 3 bernama Park Chorong. Yoora terus membuat dirinya berpikir kalau itu hanya gosip, dan hidup sebagai penggemar rahasia Woohyun.

 

Hingga akhirnya lamunan Yoora dipecahkan oleh kedatangan guru di kelasnya. Ia meraih iPodnya dan menekan tombol pause. Lalu meletakan kembali iPadnya di laci mejanya.

 

“Aku.. Akan menyatakan perasaanku saat pulang sekolah.” tutur Yoora dengan cukup percaya diri. Pertama yang di dapatkannya hening, tapi sepersekian detik kemudian jeritan keras dari Suzy dan Jiyeon pecah.

 

“Hah!?” jerit mereka hampir bersamaan. “Kau serius?” ucap Jiyeon, “Waeyo? Apa yang membuatmu berpikiran begitu?” timpal Suzy.

 

Yoora tersenyum, kemudian melipat tangannya di depan dada dan mendengus angkuh, “Tentu saja aku serius. Aku sudah cukup lelah hanya mengaguminya dari jauh, aku mau mendapat kepastian tentang perasaanku. Aku kan juga tidak mau menghabiskan masa SMAku hanya dengan memikirkan satu orang!” ucap gadis ini panjang lebar.

 

Kedua temannya hanya membuka mulutnya lebar menyaksikan penuturan Yoora. “Aku sudah meletakan surat di Loker Woohyun sunbae, aku menyuruhnya menemuiku di gedung belakang sekolah. Jadi… Doakan aku!” lanjut Yoora.

 

Temannya yang semula hanya diam tak berkedip, mulai menarik seulas senyum dan berkata dengan semangat, “Tentu! Selamat berjuang Yoora-ah!!” ucap Suzy dan Jiyeon dengan riang. Yoora menyembulkan dua jarinya dan tersenyum memamerkan barisan giginya.

 

@@______

 

 

Bel pulang sekolah berbunyi. Semua orang menanggapi dengan riang, kecuali Yoora. Keringat dingin meluncur dari pelipisnya dengan cepat. Suzy dan Jiyeon sibuk melontarkan kalimat penyemangat, meski jauh di lubuk hati Yoora, ia sudah siap menghadapi kenyataan ditolak. Akhirnya perlahan gadis bermata coklat tersebut melangkahkan kakinya keluar kelas, dan berjalan ke gedung belakang sekolah.

 

Semakin mendekat ke arah tujuan, jantungnya berdegup semakin kencang. Langkah kakinya terus diiringi oleh degup jantung yang cukup keras. Hingga kakinya telah menginjak area gedung belakang sekolah. Disana sudah terlihat sesosok laki-laki yang sudah sangat familiar banginya, Nam Woohyun.

 

Lelaki itu berdiri membelakangi Yoora. Gadis itu menelan ludah, menahan tiap getaran tubuhnya. “W-Woohyun.. Sunbae?” desahnya dengan gugup.

Woohyun menoleh menampilkan wajahnya yang langsung membuat darah di tubuh Yoora naik. Senyum ramah terlihat di bibir lelaki itu. “Kau yang meletakan surat ini kan?”. Yoora mengangguk pelan. “Hn.. Itu..” tururnya pelan. Woohyun mendekat perlahan berusaha menangkap suara Yoora lebih jelas.

 

“A-aku sudah mengagumimu sejak lama. Maukah.. Maukah kau menjadi pacarku?” ucap Yoora sambil sedikit berteriak. Mukanya merah padam, suhu badannya naik seketika. Kyuhyun membulatkan matanya menanggapi penuturan Yoora. Lelaki yang lebih tua setahun dari Yoora tersebut tertunduk. Wajah Yoora sudah tidak karuan, perasaannya berkecamuk. Antara malu, lega, dan takut menjadi satu.

 

“Boleh saja..”

 

Yoora segera menundukkan kepalanya dalam dalam, “Maafkan aku.. Aku betul betul minta ma–, eh?” kalimat Yoora terpotong disusul oleh ucapan refleks darinya, setelah mendapat persetujuan tidak terduga dari sunbaenya tersebut.

 

“Kau minta aku menjadi pacarmu kan? Boleh saja.” lanjut Woohyun dengan wajah sedikit tersipu. Yoora serasa terbang mendengar kalimat Woohyun, ia masih sedikit tidak percaya. Hampir setitik air mata turun dari ujung matanya, hanya saja hal itu ia tahan mati matian.

 

“Waeyo?” tanya Woohyun melihat raut wajah Yoora yang tidak karuan sambil makin mendekati gadis itu. Ia mengangkat dagu Yoora, dan menatap lurus mata coklat gadis itu yang sedikit memerah.

 

“A-aku.. Masih tidak percaya..” ucap Yoora sambil sedikit mengerjap. Woohyun tersenyum lembut, kemudian menepuk kepala Yoora pelan, “Kau lucu sekali.” ucap Woohyun sambil meringis gemas.

 

“Mau pulang? Sudah sore ayo aku antar.” lanjut Woohyun sambil mengedipkan sebelah matanya. Yoora menyambut hal itu dengan senyum manis, “Oke!” jawabnya.

 

Yoora mengeluarkan iPodnya dari dalam tas, dan mengecek Playlistnya. Kembali tertera lagu Just Be Friend. Yoora menghela napas pelan, dan kembali mengingat kejadian tak terduga tadi. Kini Woohyun sudah menjadi pacarnya, hal yang sudah ia impikan sejak lama terjadi. Sesekali gadis itu tersenyum kecil, dan membanting iPodnya ke kasur, lalu merebahkan badannya di kasur tersebut, hingga tidak lama setelah itu ia tertidur.

 

@@______

 

 

“YOORA-YA!?” jerit Suzy dan Jiyeon diiringi derapan langkah keras dari mereka berdua. Yoora menoleh santai menatap teman temannya yang terengah-engah tersebut.

 

“Ya?” jawabnya dengan polos, seolah tak memperdulikan sikap panik teman temannya.

 

“Jangan berkata ya dengan wajah datar begitu! Aku mengerti perasaanmu kok!” tutur Suzy dengan khawatir. “Sabar ya Yoora.. Kalau mau menangis kau boleh menangis kok..” ucap Jiyeon lembut. Yoora menatap kedua temannya dengan bingung, “Kenapa aku harus menangis?” tanyanya bingung. “Eh..? Kau.. Ditolak Woohyun Sunbae…kan?” tanya Jiyeon pelan.

 

Tawa Yoora pecah seketika, ia menepuk bahu kedua temannya dengan cukup keras. Setelah puas tertawa, gadis itu berdehem kecil. Kembali ia menyembulkan dua jarinya ke depan wajah teman temannya.

 

“Aku sudah jadian kok..” terangnya dengan senyum lebar yang mengembang di wajahnya. Kini teman temannya yang di buat diam tak bisa berkata apa apa atau bahkan menanggapi sikap Yoora.

 

“Da-Daebak! Yoora-ya neo jinjja Daebak!! Chukhahaeyo!” jerit Suzy dengan riang sambil beberapa kali sedikit bertepuk tangan. Ketiganya sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.

 

Lapangan basket di sekolahnya ramai seperti biasa. Lautan anak perempuan memenuhi lapangan saat itu. Tentu saja yang menghias lapangan saat itu Kyuhyun dan beberapa temannya yang juga bermain basket. Yoora berusaha menyelip sedikit demi sedikit untuk menangkap sosok Kyuhyun.

 

Riuh rendah jeritan anak perempuan terus mengelu-elukan nama Kyuhyun. Yoora yang berperan sebagai pacarnya sedikit bingung harus bangga atau bahkan cemburu. Hingga posisi depan pun sudah ia raih.

 

Paras tampan Woohyun terlihat jelas, dan sukses membuat dada Yoora berdegup kencang. Tapi yang paling membuat dadanya makin berdegup kencang ialah Woohyun yang berjalan mendekati dirinya.

 

“Annyeong Yoora-ya. Kau datang untuk menontonku, kan?” Ucap Woohyun sambil tersenyum hangat. Seisi lapangan membicarakan dirinya, Yoora sendiri bingung harus berbuat apa. “Kyu? Siapa dia?” tanya salah satu teman laki-laki Kyuhyun yang berjalan ke pinggir lapangan mendekati Yoora “Manis juga ya..” ledek temannya yang lain. Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kecut.

 

“Kalian jangan macam macam, gadis ini yeojachinguku.” jelas Woohyun sambil mengusap kepala Yoora pelan. Yoora membisu seketika, suaranya tercekat. Orang yang sudah ia puja selama dua tahun terakhir ini menjadi kekasihnya, bahkan menatap geram Yoora, termasuk Chorong.

 

@@____

 

Bel pulang sekolah berdering, Yoora sudah berdiri mematung di gerbang sekolah. Bahkan keadaan sekolah saat itu sudah mulai sepi. Ia dan Woohyun telah berjanji pulang bersama, hanya saja hingga saat ini Woohyun belum menampakkan batang hidungnya.

 

Yoora memajukan bibirnya, dan mendengus kesal. Sifat tidak sabaran dan keras kepalanya muncul. Aneh, padahal ia sabar menunggu Woohyun selama dua tahun ini, tapi hanya menunggu setengah jam seperti ini saja sudah membuatnya naik darah.

 

“Ckckck, Yoora..” tiba tiba terdengar sebuah suara yeoja, disusul sebuah suara tawa kecil. Yoora menoleh cepat, dan terperanjat seketika. Itu Chorong dan sunbaenya yang lain. Mereka menatap Yoora dengan tajam dan dingin.Yoora melangkah mundur, beruasaha sebisa mungkin menjauhkan dirinya dari gencetan ini.

 

“Kau merasa lebih cantik dariku hah? Berani sekali mendekati Woohyun seperi itu!” Tutur Chorong dengan sarkatik.

 

Yoora menatap para sunbae perempuannya tersebut dengan tatapan bingung. Apa menjadi pacar Kyuhyun harus didasari dengan kecantikkan? Yoora bukan tipe yeoja yang akan diam saja diperlakukan seperti itu, tapi kalau soal jumlah tentu saja ia kalah telak. Chorong menggebrak dinding di belakang Yoora.

 

“Jangan pernah sekali pun kau dekati Woohyun-ku lagi, ingat itu, jelek.” ucap Chorong, sambil bergilir meninggalkan Yoora yang masih terdiam.

 

Yoora berusaha mencerna apa yang barusan dikatakan sunbaenya. Sedikit tidak masuk akal, hingga sampai saat ini masih membuatnya tercengang. Kalimat Chorong seakan membangunkan dirinya dari sebuah mimpi indah. Yoora menghela napas, yang naasnya terlihat oleh Woohyun.

 

Woohyun mempercepat larinya mendekati Yoora, “Lama menunggu ya?” Tanya Woohyun sambil sedikit terengah. “Tadi ada…” Seketika kalimat Woohyun di potong oleh Yoora yang segera membalikan. Badannya dengan cuek.

 

“H-hey, kau marah?” Tanya Woohyun sambil mempercepat langkahnya dan berdiri tepat di depan Yoora. Ditatapnya wajah Yoora yang terlihat acuh tak acuh. Woohyun mengangkat dagu Yoora supaya ia dapat menatap wajahnya lebih jelas. “Kau belum menjawabku.. Apa kau…” Belum selesai Woohyun berbicara, lagi lagi kalimatnya dipotong Yoora.

 

“Ani jangan terlalu berasumsi dengan semua imajinasimu. Ini bukan komik, apa kau berharap aku mengeluh manja padamu karena datang terlambat?” Tukas Yoora tajam, yang tidak lain wujud dari kekesalan dirinya pada Chorong tadi. Woohyun mengerjap, dia tidak menyangka jika Yoora akan semarah ini.

 

Marah? Oh, tentu saja itu hanya kalimat klise seorang gadis, jika ia berkata ia tidak marah maka yang terjadi adalah sebaliknya. “Mianhaesseo..”. Ucap Woohyun sambil menatap dalam mata Yoora. Yoora sedikit tersentuh mendengarnya, maksudnya sikap Woohyun yang begitu cepat menyadari bahwa Yoora sedang marah.

 

“Jangan marah ya?” Ucap Woohyun sambil menampilkan senyum nakalnya. Oh tuhan, siapa yang sanggup melihat senyum manisnya tersebut. Sedikit demi sedikit, senyum Yoora mulai nampak. “I-iya..” Ucap Yoora tanpa sedikit pun menutupi wajahnya yang tersipu.

 

Senyum Kyuhun kembali merekah, ia meraih tangan Yoora dan mengajaknya pulang. Kyuhyun menatap tubuh kecil Yoora, dan menghela napas pelan. Ia tahu, apa yang membuat Yoora marah. Tidak lain… Chorong.